Nilai Filosofis Dari Nasi Tumpeng

By | April 23, 2020

Kita tahu jika Indonesia adalah negara yang kaya. Salah satunya tentu dari aspek kebudayaan. Ada banyak sekali budaya yang hadir dari tiap-tiap suku. Budaya-budaya tersebut bahkan meresap dalam kehidupan sehari-hari kita bahkan tanpa kita sadari. Salah satunya adalah adanya nasi tumpeng pada setiap perayaan.

Entah apa pun perayaannya, mulai dari hari ulang tahun, hari kemerdekaan dan nasional, pembukaan suatu tempat atau acara yang lainnya, pasti kebanyakan menggunakan nasi tumpeng sebagai suatu hidangan ataupun simbol. Karena permintaan akan nasi tumpeng yang tidak pernah mati, membuat banyak jasa Pesan Nasi Tumpeng Jakarta Timur. Tapi, tahukah Anda jika nasi tumpeng sendiri punya nilai filosofisnya sendiri.

Nilai Filosofis dari Nasi Tumpeng

Nasi tumpeng sendiri adalah sejenis hidangan nasi putih ataupun nasi kuning yang dibentuk menjadi kerucut yang besar dan didampingi dengan beberapa jenis lauk di sekitarnya. Nasi tumpeng sendiri adalah kebudayaan yang sering kali ditemukan di masyarakat Jawa, baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Bentuk nasi tumpeng yang kerucut seperti itu memang terpengaruh dengan bagaimana kondisi geografis di Pulau Jawa, yaitu kebanyakan daerah gunung. Hal ini karena Pulau Jawa dilalui oleh cincin gunung api.

Bentuk tumpeng yang seperti gunung sendiri adalah sebagai suatu bentuk tradisi dalam memuliakan gunung. Bagi kepercayaan para masyarakat Jawa dulu, gunung adalah tempat sakral di mana di sana bersemayam para arwah yang pendahulu atau nenek moyang mereka. Maka, untuk memberikan persembahan, akhirnya dibuatlah menjadi nasi tumpeng. Nasi tumpeng sendiri ternyata juga mengalami pergeseran makna seiring dengan masuknya agama ke dalam Indonesia. Saat agama Hindu masuk, pengaruhnya sendiri juga ikut mengubah makna dari tumpeng. Nasi tumpeng direpresentasikan sebagai Gunung Mahameru, tempat suci dimana bersemayam para dewa. Perubahan makna sendiri juga terjadi saat agama Islam mulai menyebar di Pulau Jawa. Nasi tumpeng sendiri menjadi makna rasa bersyukur dan rasa berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Makna di Setiap Komponennya

Saat Anda membuat nasi tumpeng atau Pesan Nasi Tumpeng Jakarta Timur, biasanya Anda mulai menyusun lauk apa saja yang kira-kira cocok untuk dipasangkan dengan nasi. Padahal, untuk nasi tumpeng sendiri ada beberapa komponen yang dirasa penting. Sejak dulu, terdapat tujuh komponen yang ada di nasi tumpeng. Makna tujuh sendiri di bahasa Jawa adalah pitu yang bisa diartikan sebagai pitulungan atau pertolongan. Adapun beberapa komponen serta makna dibaliknya ialah:

  1. Nasi

Komponen utama dari nasi tumpeng. Pada zaman dulu, nasi yang digunakan adalah nasi putih. Makna dibaliknya adalah menunjukkan kesucian. Namun saat ini juga divariasikan dengan nasi kuning atau jenis yang lain

  1. Ayam ingkung

Ayam ingkung sendiri adalah ayam yang dimasak secara utuh dengan menggunakan bumbu opor. Makna ingkung sendiri adalah agar pasrah kepada Tuhan serta khusyuk dalam beribadah kepada-Nya.

  1. Ikan Teri

Ikan teri yang biasanya dimasak dalam jumlah banyak menggambarkan bagaimana kebersamaan serta kerukunan.

  1. Ikan lele

Makna dari ikan lele sendiri adalah ketabahan dan keuletan dalam menghadapi keadaan.

  1. Telor rebus

Telor rebus sendiri yang dihidangkan dengan masih diselimuti cangkang melambangkan agar bisa teliti dalam melaksanakan sesuatu agar hasilnya maksimal

  1. Sayur Urab

Sayur urab sendiri adalah campuran dari jenis-jenis sayur yang ditambah bumbu urab dan parutan kelapa. Tiap sayuran memiliki maknanya masing-masing.

  1. Sambal goreng

Sambal goreng pada nasi tumpeng melambangkan semangat gotong royong dan guyub rukun di masyarakat.

Seperti itulah beberapa makna filosofis yang terkandung dalam nasi tumpeng. Bagi Anda yang butuh nasi tumpeng namun tidak ingin repot, Anda bisa langsung Pesan Nasi Tumpeng Jakarta Timur ya!

Share Button